Saksi Bisu Si Perutuk Diri
CERPEN
Alya Nadila
7/24/20243 min baca
"Kali ini, apa lagi yang akan diucapkannya saat beradu pandang denganku?" kata benda pemilik pantulan bayangan.
Aku memilih diam ketika seorang perempuan cantik dengan pita merah muda di bagian kiri rambut sebahunya melewatiku. Perempuan itu berhenti di hadapanku. "Tuh, kan, masih aja jerawatnya muncul, malah makin besar," ucapnya sambil menyentuh salah satu bagian dari wajahnya.
Ia mulai merapikan pakaiannya, memperbaiki bagian yang sekiranya akan mengganggu sesiapa yang melihatnya nanti. Sesekali ia melirik jam berwarna rose gold yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jelek." Lagi-lagi ucapan itu kudengar setiap kali ia beradu pandang denganku. Sejujurnya aku sudah cukup muak mendengar makian terhadap dirinya sendiri setiap kali ia bercermin. Terkadang, ucapan itu juga kudengar setiap kali ia ingin tidur. Miris, diri sendiri pun enggan sayang akan dirinya.
"Coba saja kalau aku nggak berjerawat, tinggi, nggak jelek kayak gini," katanya lagi.
Ah, kalau bisa bicara langsung, akan aku ceramahi perempuan di hadapanku ini. Tidak tahu cara bersyukur sama sekali.
Tangannya bergerak merapikan hiasan rambutnya yang mulai berantakan. "Satu, dua, tiga, empat, ..." Kali ini ia mulai menghitung jerawat yang menghiasi wajah mungilnya. Kudengar decakan keluar dari sudut bibirnya. Lagi-lagi, ia tidak bisa menerima dirinya sendiri.
"Nara!" terdengar suara wanita paruh baya memanggil perempuan di hadapanku.
"Iya, Mah. Ini udah mau selesai, kok," ucapnya menyisir kembali poni yang menutupi bagian jidatnya. Katanya, tidak bagus kalau kelihatan. Ia mulai menjauhiku, berjalan mengambil tas ransel abu muda dan melangkah keluar kamar.
Heran, manusia tidak ada rasa syukurnya.
Memang, ia pernah menerima dirinya sendiri. Namun kini tidak lagi, kekurangan yang ia miliki terus saja dibandingkan dengan kelebihan yang dimiliki orang-orang di sekitarnya.
Perempuan itu kembali ke kamarnya usai menjalani dunia pendidikan dengan lingkungan sekitarnya yang kerap kali tidak mendukung. Ia melempar tasnya ke kasur dengan sembarang, rambutnya yang sejak pagi tadi ditata rapi kini sudah acak-acakan, dan raut wajah yang cantik itu kini berubah masam.
"Sampai kapan cibiran itu selesai?" tanyanya. Aku mulai memandangnya, ia tanpa malu meluapkan kesedihan yang dirasakannya. Kasihan. Ternyata tak semudah itu, ya, menerima diri sendiri.
Ia berjalan ke arahku, berdiri di hadapanku dengan mata yang mulai memerah. Ia pasti akan menangis. Kadang ia tertunduk dan menyapu air mata yang membasahi pipinya. Benar-benar terlihat berantakan. Bukan hanya penampilannya, tetapi hatinya juga demikian.
Dia mulai membersihkan diri dan mengambil posisi duduk di atas kasur. Jemarinya bergerak mengambil sebuah buku yang setiap malamnya akan ia gunakan untuk menulis. Sepertinya, malam ini buku itu lebih berantakan. Air matanya tak kunjung berhenti, mulai membasahi lembaran kertas buku, membuat sebagian tulisan yang tertulis menjadi tak terbaca jelas.
Merutuk diri tidak ada habisnya ia lakukan. Namun, kasihan dirinya. Ia mulai menyimpan buku yang sebelumnya ditulis, merebahkan diri, dan mulai memejamkan mata.
Aku melupakan peranku sebagai cermin yang hanya berdiri diam pada tempatnya. Aku bergerak mengambil beberapa kertas dan pena di atas nakas sebelah kasur miliknya dan menulis beberapa kalimat yang ingin kukatakan namun tak mampu aku ucapkan.
Tubuhnya terlihat lemas dan matanya yang memerah menghiasi paginya. Ia benar-benar seperti tidak memiliki semangat apa pun pagi ini. Matanya mulai melirik ke arahku. Raut wajah kaget terpancar di wajahnya. Kakinya melangkah dan berdiri di hadapanku. "Peluk diri sendiri, ya." ucapnya membaca kertas berwarna merah muda yang diambil dari tubuhku. Kini tangannya bergerak mengambil kertas berwarna hijau, "Berterima kasih kepada diri sendiri," katanya lagi. Ia mulai membaca sisa-sisa kertas yang masih tertempel dengan warna berbeda-beda.
Hingga ia membaca satu kertas berwarna kuning yang membuatnya terdiam lama. “Tolong berdamai, ya. Kasihan ia.” Kalimat itu tertulis dengan indah, memaknai banyak hal yang seharusnya patut ia terima tanpa harus memaki dirinya lagi.
Ia mulai terduduk di atas lantai dengan kertas berwarna yang sudah memenuhi genggamannya. Kepalanya terangkat, bulir-bulir bening itu kembali membasahi pipinya dan langsung ia sapu dan bangkit untuk menuliskan sesuatu di buku jurnalnya. Entah apa.
Perempuan dengan rambut yang diurai melangkah menghampiriku. "Benar, harus peluk diri sendiri," ucapnya dengan kedua sudut bibirnya yang membentuk bulan sabit. "Nara, terima kasih karena sudah tetap kuat. Terima kasih karena berani sayang sama diri sendiri," katanya lagi sambil merapikan ujung rambut yang menghalangi pandangannya. "Maaf karena kemarin sudah lupa." Kini matanya mulai berkaca-kaca. Namun, itu terjadi sebentar hingga ia berucap, "Damai!" sambil mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya ke udara dengan senyum manis di bibirnya.
Langkahnya bergerak keluar kamar, kembali mengenyam dunia pendidikan sekaligus menghadapi cibiran dan perbandingan yang biasa dihadapinya.
Tak tahu apakah ia benar-benar sudah berdamai atau tidak. Tetapi, aku menjadi saksi ketika ia menerima cibiran dari dunia sekitarnya dan membenarkan hal itu ketika sendirian. Aku juga menjadi saksi inginnya untuk berdamai dan memeluk diri sendiri dengan erat, meski tanpa adanya orang lain di sekitarnya. Diri sendiri hanya memiliki diri sendiri. Ia harus paham, tanpa dirinya yang menerima diri sendiri, ia tidak memiliki siapa pun.
Tentang Penulis
Alya Nadila atau akrab disapa Alya merupakan perempuan berdarah Aceh yang memiliki hobi berkata lewat tulisan. Ia lahir di Kota Lhokseumawe ini sedang mengenyam pendidikan di jurusan Tadris Matematika IAIN Lhokseumawe. Melalui hobi menulisnya, ia sudah menghasilkan beberapa karya antologi cerpen dan puisi. Salah satu puisinya berjudul 'Netra yang Entah Kian Kembali' telah dimuat pada Unimal Magazine Edisi 10 Universitas Malikussaleh.