Saat Lambung Berbicara

CERPEN

Mutia Nasution

7/24/20243 min baca

“Huekkk…huekkk…”

Glek…glek…glek….

Sebuah pil bulat masuk lewat rongga mulut. Hanya dalam hitungan menit, kedua bola mata terpejam membawa gadis berambut ikal itu mulai memasuki alam bawah sadarnya.

“Hiksss…hiksss”

Suara rintihan air mata itu terdengar kembali. Rasanya sudah lama suara itu tidak terdengar. Sudah beberapa tahun agaknya.

Deg…deg…deg…

“Ti…Kamu kenapa?” tanya organ pemompa darah itu.

“Obat yang dimakan Tuan tadi se-mengerikan itu ya? Apakah pekerjaanmu seberat itu, Ti?” tanya usus.

“Bukan, Sus, obat yang dimakan Tuan kita tadi kan obat pereda mual, bukan racun. Dia pasti sedang sedih, ya, makanya menangis.” tebak Lambung.

“Cerita, Ti, jangan dipendam sendiri. Kita ini kan keluarga. Kalau kamu sakit, itu akan berpengaruh ke cara kerja kita semua.”

“Benar kata Jantung, salah satu saja di antara kita ada yang sakit maka kita semua akan kena imbasnya.”

“Hei kalian yang di bawah, ada apa ribut-ribut?” tanya organ yang berada di posisi paling atas tubuh manusia.

“Nah, tuh suara tangisanmu sudah sampai ke Otak, Ti.”

“Huaaaaa!” pecah tangis Hati kembali memekikkan seisi organ dalam.

“Hei, kenapa tangismu makin nyaring? Berisik! Apa kau mau membangunkan Tuan kita yang sedang mencoba beristirahat?” teriak Otak.

“Ini semua gara-gara kamu!” teriak Hati kepada Otak.

Otak yang tidak tahu-menahu dan merasa dituduh lantas kebingungan.

“Aku? Apa salahku? Bukankah dari tadi kalian di bawah sana yang ribut-ribut tidak jelas. Aku sedang mencoba istirahat dari tadi.” ucap Otak membela diri.

Jantung, Lambung, dan Ginjal juga geleng-geleng kepala melihat rekan mereka yang hobi tantrum ini.

“Jahat! Bisa-bisanya kamu menanyakan apa salahmu setelah membuatku sakit seperti ini!” teriak Hati.

Otak kembali memasang wajah kebingungan. Logikanya berputar, mencoba mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan hingga membuat Hati terluka.

“Duh, serius ya, Ti. Aku ini organ logika dan fakta yang tidak suka dengan drama dan kode-kode yang tidak jelas. Sekarang jelaskan apa yang sudah aku lakukan padamu?”

Hati menyeka air mata dan air hidung yang sedari tadi mengalir. Bola matanya yang masih berlinang sisa air mata masih tampak jelas, sorot mata itu dengan tajam menatap Otak.

“Kamu benar-benar tidak berperasaan. Bisa-bisanya kamu biarkan Tuan kita tersakiti untuk yang kesekian kalinya. Kamu bilang kamu organ yang penuh dengan logika dan fakta. Tapi mengapa saat sedang jatuh cinta, logikamu justru mati? Kau biarkan Tuan kita bergantung padaku. Kau tahu, kan, Aku organ yang lembut dan penuh dengan perasaan. Kemana kau saat kami membutuhkanmu?”

Jleb.

Tidak hanya Otak, seluruh organ dalam terdiam melihat amarah Hati yang membara.

Otak menghela nafas. Ia dengan kesabarannya mencoba untuk tidak tersulut api amarah yang akan membuat hubungannya dengan Hati kian memanas.

“Ti, dengar dulu penjelasanku, yah. Kamu tenangkan dulu diri kamu di bawah sana. Bung, tolong hapus air matanya.” pinta Otak pada Lambung.

Lambung terkejut namanya dibawa-bawa, “Lah, kok Aku?”

Otak menatap Hati dalam-dalam lalu mulai menjelaskan dengan rinci dan sesuai fakta yang terjadi.

“Ti, Aku minta maaf kalau pekerjaanku membuat kau dan organ tubuh lainnya terluka. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyadarkan Tuan kita bahwa pria yang mendekatinya itu tidak baik. Aku sudah membuka logikanya dengan beberapa petunjuk, seperti lelaki itu jarang memberi kabar tapi aktif di media sosial, beberapa kali Tuan kita memberi kode mengajak bertemu juga selalu ditolak. Aku sudah berupaya membuka logikanya. Bagiku itu sudah cukup menjadi bukti. Kau tahu, kan, kita semua tahu kalau Tuan kita orang yang tegar, dia sering menonton video motivasi untuk bangkit dari patah hati.”

“Eh, sebentar… sebentar… jadi ini perkara lelaki jahat yang mendekati Tuan kita? Kamu menangisi lelaki yang bahkan bukan pacar Tuan kita? Ti, kamu sehat gak, sih?” teriak Lambung.

Usus dan Ginjal saling berbisik memojokkan hati. Mereka sadar di sini Hati yang sudah terbawa perasaan dan berlebihan.

Hati menatap rekan-rekannya yang mulai memojokkannya.

“Teman-teman, sudah-sudah. Jangan menyalahkan Hati,” pinta Otak.

“Iya, ini sudah berlebihan, Tak. Tahun lalu, jangankan Hati. Kita semua pun sedih karena Tuan kita ditinggalkan lelaki yang katanya berjanji akan menikahinya. Mereka sudah berpacaran satu tahun, lah ini, lelaki yang baru satu kali bertemu terus tadi pagi terlihat di media sosialnya mesra dengan perempuan lain dan kau langsung menangis? Ti, kita harus kuat! Masalah ini tidak lebih berat dari masalah Tuan kita tahun lalu, bukan?” jelas Lambung.

Ginjal dan Jantung bergerak merangkul Hati. Sementara Usus menepuk-nepuk bahu Lambung agar ia tenang.

“Kamu hebat, Ti. Kalau bukan karena kelemah-lembutan kamu, barangkali Tuan kita akan dijuluki perempuan tak berperasaan, namun ada kalanya kamu harus tegar, jangan mudah terbawa perasaan agar Tuan kita sanggup melewati hari-harinya dengan baik, yah!”

Hati mengangguk lalu minta maaf karena sudah membuat gaduh seisi organ tubuh yang sedang beristirahat.

Hati dan Otak pun saling tersenyum bermaafan, begitu juga dengan Hati dan Lambung.

Seperti kata Lambung, semua organ harus kuat demi Tuan mereka. Untung saja Lambung adalah organ yang tidak gampang terkena asam lambung saat Tuan mereka ada masalah.


Tentang Penulis

Penulis saat ini mengajar di salah satu kampus Negeri di kota Palembang, Sumatera Selatan. Di sela-sela kesibukan mengajar, penulis masih aktif menulis di surat kabar seperti harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Medan Pos, dan Riau Pos.

Sampai saat ini penulis memiliki 6 buku tunggal yaitu Ragam Gaya Belajar Pada Siswa (2023), Travelling Tanpa Pusing (2023), dan Catatan Camilan Dilan (2023), Makan-makan di Sawah (2023), Langit-langit Rindu sebagai buku antologi Puisi (2019), Apron Buat Avon sebagai buku antologi cerpen (2017) dan 1 Book Chapter pada tahun 2022 dengan judul Dasar-dasar Pendidikan.

Pada tahun 2020 penulis menjadi perwakilan Sastrawan Wanita Sumut pada agenda Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III di Jakarta oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek. Tahun 2022 Mengikuti Narrative Journalism Tour oleh Yayasan Pantau, Jakarta di kota Pekanbaru dan tahun 2023 mengikuti Bimtek Penerjemahan Cerita Anak oleh Balai Bahasa Sumatera Utara di Berastagi, Sumatera Utara. Penulis dapat di hubungi melalui surel mutianasution238@gmail.com.