Lis

CERPEN

Rahayuni Wulantika

7/24/20242 min baca

Lembar kalender terus berganti, hari menjadi minggu dan minggu menjadi bulan. Berbulan-bulan, aku menatap perempuan itu tanpa bisa melakukan apa pun. Setiap sore, ia banyak melamun, menunggu suami yang tak diketahui kepulangannya. Ia rengkuh yang bisa ia rengkuh, lututnya sendiri.

Hari ini, sinar mentari mengganti dinginnya malam. Perempuan itu keluar dapur dengan buru-buru sambil mengoles selai di atas roti. Lantas, ia letakkan roti itu di atas piring keramik putih dengan bunga merah sebagai aksen. Aku mendengarnya berteriak keras.

“Kinan, sudah siang, Nak!”

Pemilik nama Kinan terdengar tidak menyahut. Aku mencerling mencari jam, kulihat pagi ini masih pukul enam. Terlalu pagi, Nah, sahutku. Hannah—perempuan itu—tampak masuk ke dalam sebuah kamar. Ia mengambil tas merah jambu dan didudukkannya di atas kursi, tepat menghadap roti yang ia siapkan.

Hannah kemudian pergi ke belakang, kehadirannya sudah tak bisa kulihat lagi. Tidak berselang lama, aku melihat Kinan keluar kamar dengan balutan seragam. Ia berjalan dan berdiri di samping kursi. Menatap roti buatan ibunya. Sebuah senyum semanis permen kapas hadir di bibirnya yang mungil. Aku tertular melihat senyuman itu.

“Ma?” seru Kinan memanggil.

Entah apa yang dilakukan Hannah di belakang sana, pun sudahkah Kinan bertemu Hannah, aku tidak mengetahuinya. Siang hingga sore ini menjadi dingin bagiku. Aku tidak melihat siapa pun dan mendengar apa pun kecuali detak jam.

Aku turut berteriak, meski bagaimana pun aku hanyalah lis yang tak bisa bersuara. “Kinan… Hannah….”

Tidak ada yang menyahutku, tentu saja. Semuanya masih sama sampai seseorang mulai mengangkat dan membawaku duduk di pangkuannya. Dia Hannah. Hannah mengelus ujung lisku yang separuh runcing. Matanya berkilauan menahan air mata yang hendak meleleh. Ia tersenyum, kulihat seperti terlalu dipaksa.

“Mas...” panggil Hannah pada potret foto yang kudekap.

Sebagai seorang prajurit, Mas Panji harus pergi jauh. Jauh dan lama. Ia melewatkan sejuta kesan yang biar pun diceritakan sore ini tidak akan rampung. Tentang suka, lara, bangga, dan cita. Tentang hidup yang kurang atau cukup. Semuanya.

Aku merasakan hati Hannah seolah berperang rasa. Bagaimana sekarang, bagaimana nanti, dan bagaimana cara menceritakannya. Air matanya tak hanya menetes, namun sudah menganak sungai. Deras sekali.

Aku mencoba menenangkan, “Panji akan pulang, Nah. Lalu kamu tidak akan rindu lagi.”

Hannah kacau, mendung menguasai wajah ayunya dengan rambut yang jatuh satu-satu sebatas bahu. Tidak ada yang bersamanya dalam keadaan susah ini. Ia meratap, sebuah ratapan kesedihan yang setara didengar tembok rumah sakit.

Dengan bibir yang bergetar, Hannah selalu menceritakan hal serupa akhir-akhir ini.

“Kinan nggak mau sarapan, Mas…” tutur Hannah diselingi isak. Perempuan itu melirik meja makan dan tas sekolah yang tak bergeser. “Dia juga nggak mau sekolah lagi.”

Seumpama aku punya tangan, akan kurengkuh perempuan yang kehilangan anak itu. Ya, Kinan sudah meninggal seminggu lalu. Yang kulihat pagi tadi adalah kesibukan Hannah sehari-hari. Sementara Kinan yang kulihat pagi tadi adalah memori yang tertinggal di rumah ini.

Aku rasakan dua kesedihan Hannah, pertama karena Kinan yang meninggal dan kedua karena Panji yang entah. Sebagai lis, hanya aku yang tersisa di sini dengan kenangan yang terbingkai. Sebuah foto Panji dan Kinan yang tengah bersepeda, berusaha melahirkan canda.


Tentang Penulis

Tika–Perempuan kelahiran akhir tahun 2003 yang tengah menempuh studi di Universitas Negeri Yogyakarta. Sejak pertengahan tahun 2020, ia sudah mengirimkan puluhan judul naskah cerita pendek. Tiga puluh diantaranya diterbitkan sebagai buku antologi. Ia menyukai aroma petrichor, kelip lampu kota, dan langit malam dengan bulan sabit. Tentangnya bisa diakses melalui akun instagram @pjnpl3e.