Last Firework
CERPEN
Horangi Bae
7/23/20248 min baca
Aku melihat rintik hujan melalui jendela kamarku. Sudah tidak terlalu deras daripada dua jam lalu. Selain awan yang sedang menangis, mataku juga ikut menangis.
Hujan, secangkir teh, dan sebuah buku astronomi di tanganku membuatku menangis. Mungkin terdengar aneh, tapi tiga hal tersebut mengingatkanku pada dia. Tiba-tiba saja aku teringat semangatnya yang menggebu-gebu saat menceritakan hal terkait astronomi yang aku sendiri kurang paham. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.
Tanganku mengusap air mata yang tersisa, nafasku juga mulai teratur. Aku menjauh dari depan jendela dan menenggelamkan diri ke dalam selimut tebal. Setelah menangis pasti akan merasa mengantuk.
Aku bangun dari tidurku, agak pusing karena terlalu lama tidur. Kulihat hujan sudah reda sepenuhnya dan langit berwarna gelap. Aku menutup gorden, namun tanganku berhenti ketika melihat jendela di depan kamarku. Ya, itu adalah kamarnya. Jam segini, aku biasa melihatnya belajar di meja yang berada tepat di depan jendela itu. Sayangnya, hal ini tidak mungkin terjadi. Sangat-sangat tidak mungkin terjadi lagi.
“Huft…”
Tanganku beralih pada buku dan cangkir teh. Saat akan berbalik dan membereskannya, tiba-tiba saja jendelaku terbuka lebar, angin malam yang dingin ikut berhembus masuk. Karena terkejut aku menjatuhkan buku, untung saja cangkirnya tidak ikut jatuh.
“Aihh, apa-apaan ini!” keluhku. Dengan kesal aku menutup jendela itu. Seingatku sudah aku kunci, namun masih bisa terbuka karena angin. Atau memang belum aku tutup?
Setelah memastikan jendela itu terkunci, aku mengambil buku yang terjatuh, namun saat aku mengambilnya, sebuah kertas jatuh dari halaman tengah.
Tertulis “19 Maret 2023”. Tanganku bergetar saat mengambilnya. Aku ingat apa yang ada di balik kertas ini. Fotoku dengan dia saat ulang tahunnya. Sebenarnya foto ini aku sobek dua per tiganya. Toh, foto ini telah menjadi milikku jadi terserahku mau diapakan.
“Andaikan saat itu aku lebih berani,” kataku. Kukemalikan lagi foto itu di buku astronomi.
“Memang, harusnya kamu lebih berani.” Sebuah suara asing mengagetkanku.
Aku berbalik untuk melihat siapa yang mengatakan itu. Mataku membola ketika aku melihat seorang laki-laki duduk di jendela yang aku tutup tadi. Sejak kapan dia di sana? Jelas-jelas jendelanya sudah aku kunci.
“SIAPA?!” teriakku.
“Tenang-tenang.” Dia turun dari jendela dan mendekat ke arahku. “Aku di sini cuma ingin membantumu.”
“Membantu apa?” tanyaku was-was. Siapa pun akan was-was jika ada orang asing tiba-tiba masuk ke kamarnya dan bilang akan membantunya padahal sedang tidak membutuhkan bantuan.
“Membantumu untuk mengungkapkan perasaanmu kepadanya,” katanya sambil tersenyum.
“Jangan gila! Mana bisa?!” pekikku. Sepertinya dia memang gila.
“Bisa dong, begini caranya.”
Tuk.
Dia menyentuh pelipisku dan kemudian aku merasa sangat mengantuk. Hal terakhir yang aku dengar adalah suaranya.
“Kamu bisa mengubah masa depan, tapi tidak dengan masa lalu.”
Apa maksudnya?
***
“Cel, Cel, bangun Cel.”
“Ughh…” aku merasa agak pusing.
“Cel, ayo bangun. Sudah ditunggu sama Leo.”
Mataku langsung terbuka lebar ketika mendengar nama “Leo” dari mulut mama.
“Apa sih, ma. Jangan bercanda. Leo kan sudah meninggal,” kataku. Sungguh guyonan mama untuk membuatku bangun sangatlah tidak lucu.
“Hush! Ngawur banget mulutnya anak mama. Leo masih hidup, Cel!”
Aku langsung mengambil ponsel yang ada di nakas.
31 Desember 2023
Tanganku gemetar dan otakku mulai berspekulasi bahwa aku sedang halusinasi karena melihat tanggal. Mungkinkah?
“Ma… Leo di bawah?” Tanyaku dengan gemetar
“Iy—” sebelum mama menyelesaikan perkataannya aku langsung berlari menuju ruang tamu.
Mungkinkah? Mungkinkah aku bisa bertemu dia lagi? Jangan-jangan gara-gara orang itu.
Saat memasuki area ruang tamu, netraku menangkap siluet seseorang sedang duduk sambil bermain ponsel.
“LEO!” Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya.
“Leo! Leo! Leo!” Aku memeluk Leo sambil menangis sesenggukan.
“Eh? Cel, ada apa?” Leo berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku berusaha untuk menahannya. Aku takut kalau pelukanku lepas semua ini akan sirna seperti bunga tidur.
“Cel, Cela! Lihat aku. Kamu kenapa, Cel?” tanya Leo. Kedua tangannya menangkup pipiku dan memaksaku untuk melihat wajahnya.
Netra kami bertemu, mata berwarna coklat muda yang beberapa hari ini aku rindukan. Hanya bisa merindukan tapi tidak bisa bertemu. Ah, aku ingin selamanya menatap mata itu.
Dengan susah payah aku menjawab, “Leo, jangan pergi. Kita enggak usah ngerayain tahun baru, ya. Di rumah aja.”
“Kamu kenapa sih, Cel? Bukannya kemarin kamu yang ngotot mau ikut.
“Enggak! Pokoknya di rumah aja!”
“Aduh Cela, jangan kayak anak kecil dong. Sudah kamu cepet gih siap-siap.”
“Enggak mau!”
“CELA!” Leo mulai jengah dengan permintaan anehku sampai meninggikan suaranya. Wajar dia marah karena aku seenaknya menyuruh Leo untuk tetap di rumah padahal kemarin aku yang merengek untuk mengikuti acara tahun barunya. “Ayolah jangan kayak gini. Sudah kamu cepet siap-siap. Aku tunggu di mobil. Bentar lagi yang lain sampai.” Leo melepas pelukanku dengan paksa dan meninggalkanku.
Ah, sial. Aku gagal menahannya. Tanpa babibu aku langsung mandi dan siap-siap. Masih ada waktu untuk menghentikan liburan satu hari yang mengerikan ini.
Setelah siap-siap dan membawa semua yang aku butuhkan, aku langsung menuju ke rumah Leo. Terlihat ada beberapa laki-laki yang seumuran denganku dan seorang perempuan yang sedang tertawa dengan Leo. Dia lagi, dia lagi!
“Leo!” Aku langsung memeluk lengannya, tidak peduli dia risih atau tidak, yang ada di pikiranku adalah harus menyelamatkannya. Perempuan yang tertawa dengan Leo tadi langsung menatapku dengan kesal. Dia adalah Fei, perempuan yang Leo suka akhir-akhir ini.
“Cel, lepas. Apaan sih.” Leo berusaha melepas lenganku, namun aku tidak peduli. Kali ini aku ingin lebih egois, karena bisa kapan saja aku terbangun dari mimpi ini.
“Waduh, Tuan Putri Cela sedang tancap gas, nih,” kata seseorang dari teras, Aksel.
Leo makin risih karena ucapan Aksel dan berusaha melepaskan pelukanku. Fei yang melihatnya juga mulai panas.
“Leo, mending kita grill di rumah aja, ya!” Aku tetap kukuh untuk membatalkan acara hari ini.
“KAMU KALO GAK MAU IKUT, YA SUDAH! JANGAN NYUSAHIN ORANG LAIN!” Leo benar-benar marah kali ini. Dia membentakku di hadapan Fei, Aksel, dan Bima.
“Maaf,” sesalku.
Suasana menjadi canggung seketika.
“Sudah kubilang, kamu tidak bisa mengubah masa lalu,” bisik seseorang di telingaku. Aku langsung menoleh.
Cowok gila itu lagi! Kenapa dia ada di sini?
“Ah, Val akhirnya datang juga. Yuk kita langsung berangkat.” Bima memecahkan keheningan tadi dan menyuruh orang-orang untuk segera masuk ke mobil.
“Val?” tanyaku.
“Ya?”
“Kita harus bicara.” Aku langsung menariknya menjauh dari orang-orang. Seingatku Leo tidak punya teman bernama “Val” ini dan dia termasuk orang gila yang membuatku mengulang hari terakhir Leo di dunia ini.
“Kenapa kamu di sini?”
“Why not? Aku enggak akan merusak masa lalu, kok. Aku hanya menyelinap sedikit di garis waktu untuk mengawasimu dan mereka di masa depan tidak akan mengingatku,” ucapnya.
“Kamu selalu bilang aku tidak akan bisa mengubah masa lalu. Akan aku ubah! Aku tidak akan membiarkan Leo meninggal!”
Dia bersedekap. “Coba saja. Kamu tidak akan pernah bisa mengubah takdir kematian orang lain, Cela. Mau sekeras apa pun kamu mencegahnya, ketika sudah ditakdirkan meninggal, ya sudah. The end.”
“Aku tidak percaya!” Aku pergi meninggalkannya.
“Terserah mau percaya atau tidak. Aku di sini cuma membantumu mengungkapkan perasaanmu, bukan untuk mengubah takdir!”
***
Saat di perjalanan aku terus mengingat hari ketika kecelakaan Leo terjadi. Mulai dari kami yang berkunjung ke sebuah taman hiburan di malam tahun baru, namun kami berlima berpencar di taman hiburan tersebut dan kecelakaan terjadi saat Leo bersama dengan Fei, sedangkan aku bersama dengan Bima dan Aksel. Sebenarnya aku ingin bersama Leo, namun Leo menolakku dan mengajak Fei. Bima dan Aksel juga sangat mendukung mereka berdua dengan menyeretku pergi dari sana.
Pada pukul 00:05 WIB kami mendapat pengumuman bahwa terjadi kecelakaan di arena roller coaster yang membuat Leo tewas di tempat, sedangkan Fei mengalami luka yang cukup parah. Oleh karena itu, hari ini aku memiliki rencana untuk berduaan bersama Leo dan menjauhkan Leo dari permainan berbahaya itu. Selanjutnya aku akan menyatakan perasaanku. Pasti berhasil!
“Cih.” Val mendecih dari kursi paling belakang. Entah kenapa aku menjadi sensitif jika berurusan dengannya. Aku melihat ke arahnya melalui spion mobil karena berada di kursi paling depan bersama Aksel yang sedang menyetir—Fei dan Leo ada di baris kedua dan Bima bersama dengan Val—dia sedang tersenyum mengejek ke arahku.
Apa-apaan orang itu!
Perjalanan yang kami lalui cukup lama. Tujuan kami adalah Kota Batu, tempat vila milik keluarga Leo berada. Mungkin kami baru sampai di vila pada sore hari karena jalanan lumayan macet.
Setelah beberapa jam yang melelahkan, akhirnya kami sampai di vila keluarga Leo. Vila ini sangat luas, bahkan memiliki kolam renang dan taman bunga. Kami mulai menurunkan semua barang bawaan dan menatanya di kamar masing-masing.
Tepat jam 17:00 kami berkumpul di ruang tengah untuk mendiskusikan rencana nanti malam. Seperti waktu itu, Aksel menyarankan untuk menghabiskan malam tahun baru di sebuah taman hiburan. Dulu aku berpikir itu bukanlah ide yang buruk, namun sekarang sangat-sangatlah buruk.
Tiba-tiba terlintas ide untuk tidak ke sana. Aku menyarankan kalau kami melakukan bakar-bakar saja, namun Fei sangat setuju dengan usulan Aksel dan Leo yang sudah buta akan Fei ikut menyetujuinya. Bima pun menyetujuinya. “Nice try,” kata Val sambil menepuk pundakku. Aku menatapnya dengan tajam.
Jam 20:00 kami bersiap-siap untuk berangkat menuju taman hiburan. Masih sama dengan posisi duduk yang tadi, aku hanya bisa diam. Aksel tidak mengajakku berbicara jadi buat apa aku mengajaknya bicara. Aku mau mengobrol dengan Leo, tapi sepertinya dia sudah muak dengan tingkahku hari ini.
Maaf, Leo.
***
“Leo, Leo, foto di sana yuk,” ajak Fei.
Sudah beberapa jam kami berada di sini dan selama itu pula aku kebakaran jenggot melihat kemesraan dua sejoli itu. Cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit sekali.
“Enggak mau foto juga?” tanya Val.
“Enggak perlu,” balasku cuek.
“Idih ngambek.”
“Bodo amat!” Aku pergi meninggalkannya dan duduk di sebelah Bima yang sedang makan tahu bumbu. Jika tujuan Fei dan Leo berfoto-foto, Aksel menjadi asisten mereka, sedangkan tujuan Bima adalah mencicipi semua makanan di sini.
“Enggak foto juga sama Leo?” tanya Bima melihatku cemberut.
“Semua cowok sama aja!” Aku memberi tatapan tajam ke arah Bima.
“Galak kali, lah, macan satu ini.” Ia lanjut makan tahu bumbunya.
Sebentar lagi jam 23:30 dan saatnya kami semua akan berpencar. Tak lama Leo, Fei, dan Aksel bergabung bersama aku, Bima, dan Val.
“Aku sama Leo mau main ke sana, ya!” kata Fei.
“Enggak!” jawabku dengan spontan.
Semua menatapku dengan heran, terutama Leo.
“Ada hal yang harus aku bicarakan sama Leo, Fei.”
“Ce—” Leo menyela. Tentu saja ia tak suka sahabatnya ini menghalangi kesempatannya berduaan dengan pujaan hati—meski belum pacaran.
“Please, Le,” pintaku.
Ia menghela napas. “Baiklah.”
Berhasil juga aku memisahkan mereka. Val mendekatiku dan mengucapkan hal yang sama seperti tadi tentang masa lalu. Akan aku buktikan bahwa dia salah. Kami berjalan beriringan. Lampu-lampu di taman hiburan ini menambah kesan romantis. Sayangnya kami hanya sebatas sahabat.
“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” tanya Leo.
“Hmm… Bagaimana kalau kita naik bianglala itu?”
Leo menyetujuinya meskipun wajahnya terlihat enggan. Kami mengantri cukup lama sampai pada jam 23:57 kami baru memasuki bianglala. Sepertinya keputusanku untuk mengajak Leo ke sini adalah hal yang pas. Di sini kami bisa melihat kembang api dengan jelas. Aku tersenyum tipis saat memikirkan itu.
“Jadi?” Perkataan Leo membuyarkan imajinasiku. Aku menatapnya.
“Ah, itu… sebenarnya Leo…” Aduh aku jadi semakin deg-degan.
Leo menaikkan sebelah alisnya.
“Jadi sebenarnya aku…”
DUAR!
Suara petasan di luar sana menyamarkan suaraku. Kami sedang berada di posisi yang tinggi.
“APA?” teriak Leo.
DUAR! DUAR!
Suara petasan saling bersahutan.
“AKU SUKA LEO!”
“APA?”
“AKU SUKA—”
Tiba-tiba saja bianglala yang kami naiki bergerak begitu kencang dan hal terakhir yang aku ingat adalah Leo memeluk sangat kencang dan teriakan orang-orang. Aku juga melihat Val berdiri di antara orang-orang tersebut kemudian semua menjadi gelap.
***
“LEO!” Aku terbangun. Badanku terasa pegal-pegal. Apakah tadi itu mimpi? Tapi terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Bagaimana? Sudah kau nyatakan?”
Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Aku ingat, dia adalah cowok misterius yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamarku dan muncul sebagai “Val”.
“Leo mana?” Aku langsung bangkit dari kasur dan berjalan menuju jendela. Aku melihat kamarnya gelap.
“Sudah kukatakan, masa lalu tidak bisa diubah. Aku hanya membantumu untuk menyatakan perasaanmu,” katanya.
Aku tahu. Aku tahu. AKU TAHU!
Tapi… hatiku selalu menolaknya.
Air mataku jatuh perlahan. Val menyeka air mataku. “Jangan menangis.”
Tentang Penulis
Perkenalkan nama saya Bae. Saya merupakan freelancer ilustrasi dan game artist yang saat ada waktu luang saya gunakan untuk menulis dan membuat konten mengenai menggambar. Kalian dapat melihat karya saya yang lain melalui akun Instagram, TikTok, Twitter saya @horangibaee dan tulisan saya yang lain di https://medium.com/@horangibaee