Cerita Belum Selesai
CERPEN
Donny Anggoro
8/3/20246 min baca
Dengan langkah gontai Mia melangkahkan kaki keluar dari rumah kosnya. Pupus sudah harapannya bakal bermalasan di kamar kos setelah dua minggu tak bisa pulang dari RS Citra tempatnya bekerja. Ledakan pasien Covid-19 tak terelakkan hingga ia dan kawan-kawannya tak hanya lembur, melainkan terpaksa bermalam di sana. Hari ini Dr. Eko menyuruhnya pulang karena sudah mendapatkan jadwal tenaga pembantu pengganti dirinya.
Pukul delapan malam Mia sudah sampai rumah kos. Tapi begitu sampai depan pagar, Bu Tasrip, ibu kosnya melarangnya masuk. “Nanti penghuni kos di sini semuanya kena! Saya sudah 60 tahun, nanti kena juga! Manula lebih gampang kena virus!” hardik Bu Tasrip.
“Lho, nanti barang-barang saya di kamar bagaimana, Bu? Ibu jangan gitu, dong! Memangnya Ibu tahu saya kena Covid?! Kalaupun saya enggak bisa tidur di sini lagi, enggak bisa secepat itu menyuruh saya keluar! Saya butuh waktu cari kos baru!” balas Mia.
“Barang-barang kamu nanti bisa menyusul! Pokoknya kamu enggak boleh masuk, titik! Bahaya!”
“Bu, saya ini suster! Saya perawat! Apa perlu Ibu saya kasih hasil tes PCR saya depan hidung Ibu supaya saya bisa masuk?! Mikir dong, Bu! Mikir!”
“Justru karena kamu perawat, kamu dong yang harusnya mikir! Karena kemungkinan besar kamulah si pembawa penyakit! Pergi! Pergi sana, pergi!”
Brakkk, pintu ditutup.
Mia terdiam di depan pagar. Ia berpikir akan numpang tidur saja semalam di kos Dewi, temannya sesama perawat.
Ping!
Balasan WA.
Dewi.
“Iya, langsung saja ke sini Mia, aku tunggu!” demikian pesan WA Dewi di ponsel Mia.
Rencana Mia besok Dewi yang akan membawa barang-barangnya keluar dari kamar kos. Apalagi Bu Tasrip, sepengetahuan Mia, tak mengenal Dewi yang juga sama-sama perawat RS Citra.
Jalanan sepi, nyaris tak ada kendaraan atau orang lalu-lalang depan rumah kosnya. Untung masih ada mikrolet yang membawanya ke Jalan Kelingkit, rumah kosnya Dewi.
Sesampainya di depan pagar rumah kos Dewi, Mia terbelalak. Dilihatnya Dewi membawa tas ransel dan koper.
“Lho, kamu mau kemana, Wi? Katanya…”
“Sudahlah, kita kembali RS saja. Memang sudah apes ini nasib kita sama-sama diusir, Mia!” cetus Dewi.
“Tapi…”
“Habis gimana? Mau tidur di hotel? Ah, nanti kita diusir lagi!”
“Memangnya sudah coba? Pesan online saja dulu! Memangnya mereka tahu kita perawat RS?” bujuk Mia.
“Aku lebih baik kembali saja ke RS…memang sudah tanggung jawab RS supaya kita bisa tetap nyaman kerja di sana, Mi. Aku sudah minta tolong Dr. Eko. Barusan aku telepon dia.”
“Bukan begitu…aku sudah mumet cium bau obat, lihat ranjang dan bangku RS…bosan lihat Pak Sodiq si mantri yang suka godain aku…gila ini, masa aku kerja terus…ya ampun…yuk kita pesan kamar hotel atau apaan kek…please Dewi….aku yang bayar, deh…ayolah…toh nanti diganti kan biayanya sama RS…”
“Sudahlah, aku juga mau istirahat! Yang penting sampai tiga hari sejak hari ini kita diberi kebebasan enggak mengurus pasien, khusus untuk kita saja boleh cuti! Kita saja toh memang jadwalnya cuti menurut Dr. Eko! Aku juga sama kayak kamu, Mia! Mumet! Aku juga pengen rebahan dan malas-malasan di kamar, Mia!”
Mia terdiam. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca. Tangisnya tak tertahan lagi.
“Ini…ini kenapa…sebenarnya aku salah apa, Dewi….aku cuma mau istirahat…badanku remuk ini, Dewi…aku capek sekali…”
“Mia…sudahlah…yuk kita sama-sama balik lagi ke RS…Dr. Eko atasan kita baik kok…pasti dia ngerti…dia sendiri juga sudah seminggu belum pulang ke rumah…Aku sudah pesan taksi …lima menit lagi datang, soalnya aku sambil bawa barang, nih…barang-barang kamu gimana? Kok enggak dibawa? Lha, kok kamu enggak bawa apa-apa?” sahut Dewi.
“Mana bisa dibawa, Bu Tasrip sama sekali tidak mengizinkan aku masuk. Begitu sampai di kos aku langsung diusir Dewi …diusir!” kata Mia sambil menyeka air matanya.
“Ya, sudah, nanti saja diurus…yuk ikut aku …tuh taksinya sudah datang.”
Di dalam taksi yang membawa mereka ke RS, Mia dan Dewi tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Masih terbayang di benak Mia wajah garang Bu Tasrip.
“Kamu sempat memaki-maki Bu Tasrip, ya?” tanya Dewi memecah kebisuan.
“Ya, jelas…aku pikir …aku pikir ini…kurang ajar sekali Bu Tasrip, padahal aku sudah lama kos di sana Dewi! Sudah dua tahun aku di sana, Wi! Keterlaluan!”
“Kita bisa apa Mia, semuanya panik, aku juga diusir kan…orang-orang masih panik…penyakit ini masih baru dan memang banyak orang belum tahu …Vaksin dan serumnya belum ditemukan, para ahli di luar sana masih bekerja keras untuk itu….Aku capek banget ini…ngantuk…badanku remuk ini…nanti di lobby kita dijemput Pak Kasim, biar dia yang bantu angkat barang-barang kita ke mes” kata Dewi.
Suara Dewi berangsur melemah. Tak lama kemudian dia tertidur.
***
Jumlah pasien penderita Covid semakin membludak. RS Citra sudah tak bisa menampung pasien lagi. Beberapa kawan Mia dan dokter lainnya di RS tempatnya bekerja tumbang kelelahan. Ada pula yang meninggal. Beruntung, Mia dan Dewi masih terbilang baik-baik saja. Lelah dan stres, pasti. Tapi untuk tenaga nakes yang tiap hari berurusan dengan banyak penderita Covid, daya tahan tubuh mereka masih terbilang cukup kuat. Hanya terkadang tidur Mia tidak nyenyak. Pernah dia bermimpi dirinya sendiri kabur melarikan diri dari RS, sampai diuber-uber polisi segala. Atau dalam mimpi bertemu Bu Tasrip yang mengusirnya dari kos.
“Hatimu kacau sekali, ya…sampai terbawa mimpi segala…eh, Mia, kamu sudah 3 bulan, lho, di sini nggak kemana-mana…duniamu ya di sini-sini saja kok, ya, masih ingat-ingat Bu Tasrip melulu…hahahaha ya kita hanya bisa pasrah sebelum vaksinnya yang ampuh ditemukan, datang dan dikirim ke sini…bersyukurlah Mia kita masih sama-sama di sini, masih bisa ketawa, masih bisa baca buku, majalah, main game, Tinder, Tik-Tok, karaoke online, nonton drakor, ngopi, hehehe…” balas Dewi.
“Kamu di mataku orang yang paling kalem, Wi. Dulu kupikir Dr. Eko orang yang paling tenang…paling tabah… enggak tahunya kamu yang paling kuat…sulit buatku untuk sejenak melupakan…apalagi kabar aku diusir sempat ketahuan wartawan, terus dimuat di media online…memang sih namaku bisa dirahasiakan atau disamarkan…tapi yang baca kan pasti tahu…apalagi nama RS Citra di berita itu tetap ditulis!”
“Oh, berita tentang nakes yang diusir dari rumah kosnya? Halah, emangnya kamu siapa Mia? Selebriti? Memang yang baca tahu apa? Kalo tahu terus ngapain? Hahahah…aku yang paling tenang, paling sabar, apaan…lagi Mia….Mia…sudahlah jangan terlalu dipikirkan! Semuanya di sini dan seluruh dunia juga sama saja Mia…semuanya sedang kalut…kalut…hahaha!” kata Dewi membesarkan hati Mia.
Mia merasa beruntung masih ada Dewi, sahabatnya sesama perawat. Selain mengalami nasib sama-sama diusir dari kos, mereka berdua hingga 3 bulan terkungkung di RS masih baik-baik saja. Malam ini mereka mendapat tugas jaga malam di UGD.
Sudah hampir 3 bulan sebagian besar tenaga medis di RS Citra ini tak bisa bertemu dengan keluarganya. Sama seperti pasien di ruang isolasi, mereka mengobati rasa kangen dengan melakukan video call. Mia melepas rasa kangen dengan bapak dan ibunya di Garut. Sedangkan Dewi asyik bertelepon dengan kekasihnya di Ubud.
”Maaf, Pak, Bu, Lebaran tahun ini Mia tak bisa pulang…”
”Tidak apa-apa Mia, yang penting kamu sehat-sehat dan bisa menelpon kami saja itu sudah cukup.”
”Mia kangen …Pak, Bu…”
”Hati-hati, Nak, istirahatlah kalau sudah capek, meskipun kamu enggak bisa pulang dulu ke kos…yang penting di sana bisa istirahat, itu rumah sakit besar, kan?”
”Tapi Mia…”
Beep.beep..!
Beep.beep..!
Suara intercom menjerit-jerit.
“Mia, Dewi, ayo cepat, ada yang baru masuk di ruang UGD!”
Terdengar suara dokter jaga, Dr. Willi.
Mia dan Dewi buru-buru pergi ke ruangan sebelah untuk segera mengenakan APD. Setelah semuanya lengkap mereka bersiap ke arah pintu masuk UGD. Bunyi berdecit suara roda-roda brankar emergency stretcher di lantai disusul raungan sirene dan kerlap-kerlip sinar lampu ambulans tampak di depan Mia dan Dewi. Mereka segera mendorong alat itu masuk ke dalam ruangan.
“Kenapa?” tanya Mia kepada Dr. Willi.
“Jantung…serangan jantung mendadak ini.”
“Oh, bukan Covid?”
“Saya ingat dia pernah ke sini…ah, sayang mestinya…”
Dr. Willi tak melanjutkan perkataannya.
Mia segera bekerja mengambil peralatan. Tapi mendadak dada Mia bergemuruh ketika mengetahui pasien yang baru masuk dengan hidung tertancap slang oksigen di ranjang ruang UGD. Itu Bu Tasrip!
Mia terbelalak. Berkali-kali ia memastikan bahwa pasien yang ditanganinya bukan Bu Tasrip. Mia berusaha sekuat tenaga bersikap seperti biasa. Apalagi dengan pakaian APD yang mirip astronot itu, tentu Bu Tasrip tak mengenalinya, batin Mia. Tapi Mia tetap saja gelisah. Dadanya bergemuruh.
Tak lama kemudian Bu Tasrip mulai sadar di atas ranjang. Matanya perlahan terbuka.
Mia, mana dia tahu itu kamu kan….
Mia, ayo tenang…tenanglah…
Mia, sabar, Mia…
Silih berganti di benak Mia antara ekspresi wajah Bu Tasrip yang sedang kaku di ranjang dengan waktu ia mengusirnya dari rumah kos. Tangan Mia bergetar. Keringatnya bercucuran. Hawa dalam ruangan ini dirasakan Mia seperti memanas. Dengan cepat Mia segera keluar dari ruangan itu…
“Mia! Woi…ini kan belum selesai!? Duh, gimana sih!” panggil Dewi.
“Biarin aja Wi, paling dia cuma ke toilet!” sergah Dr. Willi.
Di ruang ganti dengan segera dilepasnya helm APD. Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup-degup makin kencang…kencang sekali…
***
Pamulang, April - Mei 2020
Tentang Penulis
DoRo akronim dari Donny Anggoro, sebenarnya lebih banyak menulis non fiksi berupa ulasan buku, musik dan film. Esainya tentang film dimuat dalam antologi Tilas Kritik terbitan Komite Film Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2019. Tulisannya pernah dimuat di majalah Tempo, The Jakarta Post, Basis, Basa-basi.co, dan Kompas. Sejak 2011 sampai sekarang mengelola Bakoel Didiet/Roundabout Music, toko buku dan musik daring di Jakarta.